Cara Memerah ASI yang Benar dengan Tangan / Pompa ASI

Bagaimana cara memerah ASI yang benar, baik menggunakan tangan maupun alat pompa ASI?

Menjadi wanita pekerja bukan alasan untuk tidak memberikan ASI ekslusif lewat bayinya. Sibuknya pekerjaan bukan menjadi alasan untuk memberikan susu formula untuk bayinya. Sebaiknya sempatkan waktu sebentar, itu juga demi si bayi.

Memerah ASI sebaiknya jangan ditunda. Hal ini karena menunda memerah ASI atau menyusui bisa menyebabkan mastitis, yaitu peradangan payudara, baik disertai infeksi maupun tidak. Penyebabnya adalah infeksi dan stasis ASI.

Menurut dr Sylvia Haryeny, IBCLC, seorang kosenlor laktasi di Rumah Sakit Hermina, masitis disebabkan karena kurang sering menyusui atau menyusui dalam waktu singkat, kemasukan bakteri (umumnya karena puting retak atau mengalami luka), kerusakan pada jaringan payudara akibat trauma, dan tidak efektifnya aliran ASI.

Penanganan mastitis bisa dilakukan dengan memijat payudara, lebih sering menyusui, atau memberikan kompres hangat pada payudara. (referensi)

– Letakkan jari tangan pada bagian luar aerola. Aerola merupakan daerah gelap yang ada di sekitar puting. Bagian inilah yang merupakan gudang ASI. Tekan payudara dengan ibu jari dan jari telunjuk. Lalu gerakkan jari tangan secara memutar saat memerah, supaya ASI yang dikeluarkan banyak.

Begitu juga ketika memerah ASI memakai alat pemompa ASI, pastikan puting ada di tengah dan aerola ada di dalam corong alat pemompa ASI. Ketika memompa ASI, sebaiknya gerakkan juga ke segala arah. Bagi yang ingin menggunakan alat pompa ASI, disarankan yang bahannya dibuat dari silokon ketimbang karet, karena dianggap lebih steril.

– Perah ASI dengan frekuensi 2 jam sekali. Menurut pendapat Muji Hananik, seorang Konselor Laktasi dari RS Bunda Jakarta, memerah ASI sesering mungkin dapat bermanfaat untuk melancarkan produksi ASI dari payudara. Selain itu, hal ini juga bermanfaat untuk mencegah timbulnya bengkak pada payudara.

Ketika memerah ASI, posisi sang ibu juga harus dalam keadaan nyaman. Pastikan wadah yang dipakai untuk menuang ASI dan tangan untuk memerah sudah higienis.

Muji menyarankan kalau ibu terbangun pada malam hari, usahakan untuk meluangkan waktu untuk memerah ASI.

Adapun untuk cara penyimpanannya, ASI hasil perahan disimpan di freezer atau lemari pendingin supaya bisa tahan lebih lama. Apabila ASI perah ditaruh di dalam freezer lemari es satu pintu, ASI bisa bertahan hingga 2 minggu, dan bisa bertahan hingga 3 bulan jika disimpan di dalam kulkas dua pintu. Sedangkan ASI hasil perahan dapat bertahan dalam kurun waktu 3 sampai 5 hari apabila disimpan di dalam lemari pendingin dengan suhu sekira 4 derajat. (referensi)

Lalu mana yang lebih baik antara memerah ASI dengan tangan atau dengan alat pemompa ASI?

Menurut Nia Umar, yang merupakan wakil ketum Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), memerah ASI langsung menggunakan tangan dapat menghasilkan lebih banyak ASI. Hal ini karena memerah ASI menggunakan tangan secara langsung efeknya seperti pemijatan payudara. Dengan memerah ASI menggunakan tangan, maka ibu dapat merasakan bagian payudara yang masih keraas sehingga ASI yang dihasilkan makin banyak.

Supaya kegiatan memerah ASI menggunakan tangan lebih efekif, ibu bisa bertanya kepada konselor laktasi. Adapun apabila ibu memerah ASI menggunakan alat pemompa ASI, dianjurkan untuk tidak mencuci alat tersebut di toilet, supaya tak terkena kontaminasi dengan bakteri di toilet.

Menurut Nia, alat pemompa ASI tersebut cukup dibersihkan menggunakan air bersih yang mengalir, kemudian dibilas dengan air minum lalu dikeringkan menggunakan lap yang bersih. Tak masalah apabila untuk penggunaan 1 hingga 3 kali, jika sudah di rumah, pompa ASI tersebut baru disterilkan. (referensi)

Incoming search terms:

  • cara peras air susu wanita
  • wanita peras air susu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat